Bank Maluku Malut Rutin Penukaran Uang Lusuh


Kepala Seksi Pelayanan Nasabah dan Informasi Bank Maluku Cabang Saumlaki - Welmina Tety Batfutu : “Setiap tiga bulan kita pasti jalan ke capem. Capem Seira bulan lalu (Maret), bulan Februari kemarin di Larat. Nanti menyongsong Idul Fitri juga turun ke Kecamatan. setiap tiga bulan ada penukaran ke kantor-kantor cabang pembantu. Untuk kota Saumlaki, rutin setiap hari Rabu dikhususkan untuk penukaran uang. Penukaran uang untuk hari Rabu itu merupakan program nasional.”

Saumlaki, PT. Bank Maluku Maluku Utara Cabang Saumlaki, sejak awal tahun 2019 rutin melakukan penukaran uang laik edar dengan uang lusuh di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dengan memanfaatkan jasa Kas Titipan (Kastip) milik Bank Indonesia yang berlokasi di Bank Maluku Cabang Saumlaki.

“Sebelum ada Kastip, Saumlaki punya uang lusuh termasuk yang terbesar tapi setelah ada kasdip di Bank Maluku, secara rutin kami sudah lakukan penukaran uang ke masyarakat, toko-toko. Tujuannya supaya uang yang beredar di masyarakat itu, uang yang masih laik.” Jelas Kepala Seksi Pelayanan Nasabah dan Informasi Bank Maluku Cabang Saumlaki, Welmina Tety Batfutu, di Saumlaki, Jumat (27/4/2019).

Tety Batfutu menjelaskan, target penukaran uang lusuh dengan uang laik edar tidak hanya terfokus di Saumlaki sebagai pusat Kabupaten Kepulauan Tanimbar, tetapi kegiatan ini telah dilangsungkan pada setiap Cabang Pembantu (Capem) Bank Maluku di wilayah tersebut.

“Setiap tiga bulan kita pasti jalan ke capem. Capem Seira bulan lalu (Maret), bulan Februari kemarin di Larat. Nanti menyongsong Idul Fitri juga turun ke Kecamatan. setiap tiga bulan ada penukaran ke kantor-kantor cabang pembantu. Untuk kota Saumlaki, rutin setiap hari Rabu dikhususkan untuk penukaran uang. Penukaran uang untuk hari Rabu itu merupakan program nasional.” Katanya.

Kegiatan ini juga merupakan kegiatan menyongsong Ramadan dan hari-hari besar keagamaan lainnya. “Pokoknya menyongsong hari raya bukan cuma Ramadan tapi Natal juga tetap ada penukaran uang.” Katanya.

Terkait peredaran uang logam di Saumlaki dan sekitarnya, perempuan asal Desa Olilit, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar tersebut menjelaskan, sebenarnya uang logam sangat banyak, hanya masyarakat tidak mau uang logam. Tidak tahu persis, masyarakat atau toko-toko (pengusaha) yang tidak terima. Tetapi sebenarnya uang logam sangat banyak, dari pecahan seratus rupiah sampai seribu rupiah.

“Biasanya kita temui di lapangan, di toko-toko yang sudah beredar uang logam hanya sebagai uang kembalian, tapi tidak dapat dipergunakan kembali sebagai alat bayar.” Tegas Tety Batfutu.

Lanjutnya, “mungkin pembeli oke, tapi penjual tidak mau terima. Itu penyebab uang logam tidak beredar, tapi swalayan kan pakai. Swalayan, Toko Berkat, ada beberapa toko yang memang pake uang koin.”

Batfutu menyarankan agar uang logam jangan disampan di rumah, tapi bisa juga ditabung ke bank. Dan dipakai berbelanja pada swalayan dan toko besar. Pedangang kecil/kaki lima juga harus menerima uang koin, dan bisa ditabung ke bank.


Share post ini: