Pedofilia Kembali Memakan Korban Siswa SMA Arui Das


Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana - Selphi Hukubun : “Jadi ada seorang siswa dari sebuah sekolah di desa Arui, yang bersangkutan tinggal di desa Lorwembun. Yang bersangkutan pulang pergi sekolah dengan berjalan kaki. Kemudian hari Selasa (10 September 2019) kemarin, seorang pengendara sepeda motor berhenti dan mengajak anak ini untuk menumpangi motornya.”

Arui Das, Kejahatan terhadap anak di bawah umur atau sering disebut pedofilia kembali terjadi dan menimpa seorang siswa Sekolah Menengah Atas di Desa Lorwembun Kecamatan Wertamrian Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Kisah pilu anak laki-laki berusia 15 tahun berinisial MK, yang baru menduduki bangku SMA kelas satu tersebut terjadi pada Selasa, 13 September 2019 di kawasan hutan antara desa Arui Das dan desa Lorwembun Kecamatan Kormomolin.

“Jadi ada seorang siswa dari sebuah sekolah di desa Arui, yang bersangkutan tinggal di desa Lorwembun. Yang bersangkutan pulang pergi sekolah dengan berjalan kaki. Kemudian hari Selasa (10 September 2019) kemarin, seorang pengendara sepeda motor berhenti dan mengajak anak ini untuk menumpangi motornya.” Ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Selphi Hukubun di Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (12/9/2019).

Lanjutnya, sang pelaku kemudian mengantarkan korban menuju arah desa Lorwembun. Tapi belum sampai di desa Lorwembun, antara desa Arui dan Lorwembun pengendara (pelaku) membelokan motornya ke arah semak-semak di dalam hutan. Disaat itu, perasaan korban mulai tidak tenang, kemudian menanyakan kepada pelaku bahwa mereka hendak kemana. Sang pelaku dengan tenang mengatakan mereka akan memetik buah pepaya sesaat sebelum melanjutkan ke Lorwembun.

“Nah, ternyata setelah jauh masuk ke dalam hutan, yang bersangkutan memberhentikan motor dan menondongkan senjata tajam ke anak itu dan dia melepaskan pakaiannya sendiri dan anak itu, lalu terjadilah sodomi.” Tutur Hukubun.

Sebagaimana diketahui, korban tersebut tidak mengetahui dengan jelas siapa pelakunya, hanya karena pelaku sering berpapasan dengan korban di jalan saat pulang sekolah maka ketika ditawari tumpangan anak tersebut langsung menerima.

“Jadi, anak hanya mengenal ciri-ciri fisik dan sepeda motor yang dia tumpangi, tapi dia tidak memperhatikan plat motor (nomor polisi) yang dia tumpangi.” Jelas Hukubun.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polsek Kormomolin dan hasil visium menyatakan bahwa korban mengalami luka robek pada bagian dubur. Barang bukti berupa celana yang penuh dengan bercak darah dan air mani, kini telah diamankan pihak Kepolisan Sektor Kormomolin.

Menurut Hukubun, sampai dengan saat ini kondisi korban masih belum stabil dan  belum bisa beraktivitas dengan baik, karena jalannya susah dan tidak bisa duduk serta korban masih mengalami trauma berat.

“Dia juga mengalami trauma mendalam sampai gemetar. Kemarin staf kami pergi masih gemetaran.” Ujar wanita paruh baya tersebut.

Menyinggung peran Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dalam kasus ini, Hukubun menjelaskan, “untuk dinas sendiri, kami sudah melakukan pendampingan, karena tugas kami adalah mendampingi korban yang kebetulan adalah anak yang wajib mendapat perlindungan.” Ujarnya.

Lanjutnya, “Jadi, di sini kita ingin menguatkan korban bahwa dia harus kuat untuk mengatasi masalah ini dan di sini kita juga harus menguatkan yang bersangkutan untuk memberikan kesaksian.” Tegas Selphi.

Hukubun berharap, agar si korban dapat memberikan kesaksian sehingga kasus tersebut segera terbongkar.

 


Share post ini: