PELEPASAN PERAHU TRADISONAL PADEWAKAN MENUJU AUSTRALIA


Bupati Kepulauan Tanimbar dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah mengemukakan bahwa Tanimbar memiliki budaya yang sudah dikenal sejak dahulu dan nenek moyang suku Tanimbar dikenal sebagai pelaut yang ulung karena  keberaniannya mengarungi laut nusantara. Hal itu dapat dibuktikan dengan benda-benda adat orang Tanimbar seperti gading gajah dan emas yang sejatinya benda-benda tersebut tidak ada di Tanimbar melainkan didapat dengan cara barter saat melakukan pelayaran tersebut. Ekspedisi ini juga menurut bupati mengingatkan kita pada pelaut Indonesia tempo dulu yang berlayar hingga ke mancanegara.

Saumlaki, Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar Piterson Rangkoratat, SH, bersama Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Kemaritiman dan Investasi Dr. Safri Burhanudin  bertempat di Pelabuhan Kelas II Saumlaki Kabupaten Kepulauan Tanimbar melepas Ekspedisi dalam rangka Napak Tilas Perahu Padewakang yang akan bertolak menuju negara Australia. Aacara inj dihadiri oleh Wakil Konjen australia di Makasar, Forkopimda, para Pimpinan SKPD dan Pimpinan Instansi Vertikal terkait di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Perahu Padewakang yang adalah replika perahu para pelaut Bulukumba abad 17 – 18 dinakhodai Anton Daeng Tompo dengan sembilan anak buah kapal (ABK) yang sejak awal bertolak dari Makasar, Galesong, Tanaberu, Birah, Selayar, Pulau Kalao, Pulau Madu, Larantuka, Adonara, Lembata, Pantar, Alor, Wetar, Marsela, Saumlaki dan pelabuhan terakhir yang dituju yakni Darwin Australia. Seperti yang disampaikan oleh Mr. Horst Liebner seorang peneliti dan sejarahwan dari Jerman yang juga turut dalam ekspedisi tersebut bahwa misi Padewakang ini untuk membawa Merah Putih ke Australia sebagai bentuk persahabatan antara Indonesia dengan Australia yang sebenarnya sudah terjalin dari ratusan tahun yang silam.

Bupati Kepulauan Tanimbar dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah mengemukakan bahwa Tanimbar memiliki budaya yang sudah dikenal sejak dahulu dan nenek moyang suku Tanimbar dikenal sebagai pelaut yang ulung karena  keberaniannya mengarungi laut nusantara. Hal itu dapat dibuktikan dengan benda-benda adat orang Tanimbar seperti gading gajah dan emas yang sejatinya benda-benda tersebut tidak ada di Tanimbar melainkan didapat dengan cara barter saat melakukan pelayaran tersebut. Ekspedisi ini juga menurut bupati mengingatkan kita pada pelaut Indonesia tempo dulu yang berlayar hingga ke mancanegara.  

Sementara itu Deputi Bidaang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Kemaritiman dan Investasi  mengatakan bahwa ekspedisi ini sudah disepakati sejak tahun lalu bersama pemerintah Australia dalam rangka meningkatkan budaya maritim kedua negara. Kedatangan timnya selain untuk melepaskan Kapal Ekspedisi Padewakang juga ingin melihhat secara langsung potensi kemaritiman  di Kabupaten Kepulauan Tanimbar khususnya dalam bidang budidaya perikanan dan pariwisata yang diyakininya bisa mendongkrak perekonomian di daerah ini. Mencermati luasnya laut di kepulauan Tanimbar sangat berpotensi untuk mengembangkan perikanan budidaya yang cenderung tidak diminati oleh masyarakat nelayan kita. Pada hal jika model ini dikembangkan justru jauh lebih menguntungkan dibanding dengan perikanan tangkap. Karena itu ke depan pihaknya bersedia membantu memberikan bantuan jika pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar ingin mengembangkan potensi perikanan budidaya tersebut, tentu saja dengan menyediakan data yang cukup. Karena sangat disayangkan jika luasnya laut Tanimbar dengan potensi yang beragam padahal belum semuanya dikelola dengan maksimal sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. “sebagai pulau terdepan di wilayah perbatasan jangan sampai ada perbedaan signifikan antara masyarakat yang ada di Tanimbar dan masyarakat Australia. Karena itu dua hal yang perlu dikembangkan adalah perikanan dan pariwisatanya” tegasnya.

Diakhir acara dilakukan pelepasan perahu Padewakang yang diawali dengan penyerahan abu sisa pembakaran (untuk memasak) di atas perahu yang menurut tradisi pelaut Bulukumba tidak boleh dibuang ke laut tetapi harus ditanam dibawah pohon saat mereka tiba di daratan. Para pelaut juga berpesan  agar abu yang diserahkan kepada Pemerintah Daerah dan Lanal Saumlaki dapat dijaga/diperlakukan dengan baik karena menyangkut keselamatan pelayaran mereka. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Kain Tenun Ikat Tanimbar oleh Sekretaris Daerah dan penyerahan garam serta tembikar oleh Deputi kepada perwakilan ABK perahu yang juga merupakan tradisi para pelaut Bulukumba di abad ke-18 untuk menjadi cinderamata bagi masyarakat Aborigin di Australia. (Humas Setda Kab. Kepulauan Tanimbar)

 


Share post ini: