PETRUS FATLOLON : SUDAH WAKTUNYA KEMBALI KE RUMAH KITA


Petrus Fatlolon : Usia 19 tahun menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat Kecamatan Molu Maru, Yaru, Tanimbar Utara, Wuarlabobar, Nirunmas, Kormomolin, Wertambrian, Wermaktian, Tanimbar Selatan dan Selaru untuk merefleksikan sejarah perjalanan negeri ini, yang secara hukum ditetapkan menjadi daerah otonom baru dan lebih dari itu mengenang Tanimbar sejak dulu hingga hari ini.

Saumlaki,  Sidang Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat dalam rangka memperingati HUT  ke-19 Kabupaten Maluku Tenggara Barat tahun 2018 berlangsung di Gedung Kesenian Saumlaki.(4/10/2018)

“sudah waktunya untuk kita kembali  ke rumah kita, rumah yang penuh dengan kehangatan,  rumah yang di dalamnya ada orangtua kita yang sedang menanti kehadiran kita, ”ungkap Bupati Petrus Fatlolon saat menyampaikan pidato  pada sidang paripurna

Sidang diselenggarakan untuk memberikan makna dan arti penting bagi kelahiran sebuah daerah oleh masyarakat dan rakyatnya. Oleh karena itu tidaklah berlebihan kiranya kami sampaikan bahwa momentum peringatan Hari Ulang Tahun ini menjadi starting point bagi legislatif dalam membuat sejarah dan warna baru penyelenggaraan HUT yang tidak hanya semarak dengan event seremonial tetapi tercatat dalam Lembaran Daerah sebagai sebuah agenda rutin DPRD Maluku Tenggara Barat sekaligus sebuah produk legislatif yang sangat monumental.

”Demikian juga bagi eksekutif, peringatan hut ke-19 ini menjadi sangat istimewa ketika para jajaran eksekutif beserta masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan yang ada mampu melakukan refleksi bahwa setiap waktu berganti penuh dengan perjuangan, padat dengan semangat pengabdian demi mewujudkan cita-cita bersama menjadikan kehidupan dan masa depan masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang lebih baik, ” lanjutnya.

”Usia 19 tahun menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat dari  Molu Maru sampai Eliasa (Kecamatan Molu Maru, Yaru, Tanimbar Utara, Wuarlabobar, Nirunmas, Kormomolin, Wertambrian, Wermaktian, Tanimbar Selatan dan Selaru ) untuk merefleksikan sejarah perjalanan negeri ini yang secara hukum ditetapkan menjadi daerah otonom baru dan lebih dari itu mengenang Tanimbar sejak dulu hingga hari ini.

Tanimbar memliki daya natural yang kuat bila dibandingkan dengan sebutan Maluku Tenggara Barat. Maluku Tenggara Barat secara geografis hanya menunjukan arah mata angin. Tenggara dan Barat adalah dua kata yang tidak dapat disatukan, mengingat kalaupun dipaksakan untuk disatukan maka yang terjadi adalah turbulensi.Turbulensi inilah yang kemudian meninggalkan keprihatinan yang mendalam. Keprihatinan yang saya maksudkan ini adalah, hilangnya rasa memiliki dan rasa tanggungjawab yang kuat terhadap esensi  dan eksistensi Tanimbar.

”Faktor inilah yang kemudian sejak 19 tahun yang lalu sampai hari ini, kita berputar terus untuk mencari jati diri kita yang sebenarnya. Terhadap hal itu, maka saya namai pidato ini sebagai “ Kembali ke Rumah Kepulauan Tanimbar “. Kata Tanimbar sendiri memiliki makna yang mendalam dan makna itulah yang mebentuk jati diri masyarakat dalam balutan “Duan Lolat ” ujar Bupati.

Pencapaian pada pembangunan infrastruktur menunjukan perkembangan positif, saat ini Tanimbar telah memiliki areal perkantoran yang memadai, Bandara Mathilda Batlayeri yang tidak akan lama lagi mampu didarati pesawat berbadan lebar, pelabuhan penyeberangan hampir di seluruh kecamatan, akses jalan 568 km  dan tidak lama lagi akan diresmikan jembatan Wer Owaralan yang menghubungkan Pulau Yamdena dengan Pulau Larat sepanjang 328 meter.

”Tanimbar bukan hanya sekedar nama, Tanimbar bukan sekedar pulau-pulau, Tanimbar bukan sekedar lambang tak bermakna, namun sesungguhnya Tanimbar adalah sebutan kepada masyarakat yang memiliki semangat hidup yang tinggio, semangat juang berkobar, dam semangat kekeluargaan yang erat dan kuat, ” tutup Bupati


Share post ini: