SKK Migas – INPEX Masela Gelar Sosialisasi Pengambilan Data Teknis Lapangan Untuk Kembangkan Kilang Darat LNG Blok Masela


KEPALA SATUAN KERJA KHUSUS PELAKSANA KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI ( SKK MIGAS ) PAPUA MALUKU A.RINTO PUDYANTORO ( KANAN ) SEMENTARA MEMBERIKAN ARAHAN SINGKAT TERKAIT KEGIATAN SOSIALISASI PENGAMBILAN DATA TEKNIS LAPANGAN YANG DIDAMPINGI OLEH KEPALA UNIT PERCEPATAN PROYEK ABADI LUKY YUSGIANTORO ( KANAN ) DAN BUPATI MALUKU TENGGARA BARAT PETRUS FATLOLON ( TENGAH ) DI GEDUNG KESENIAN SAUMLAKI.

Saumlaki,SKK Migas – Inpex Masela gelar Sosialisasi Pengambilan Data Teknis Lapangan Dalam Rangka Pengembangan Kilang Darat LNG Blok Masela kepada pemangku kepentingan terkait di Maluku Tenggara Barat (MTB) selama tiga hari dari tanggal 17 hingga 19 April 2018.

Pada hari pertama, sosialisasi dilakukan kepada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) MTB dan kepala dinas terkait. Lalu, hari kedua dilakukan sosialisasi kepada tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat lainnya di wilayah yang dilewati pengambilan data teknis lapangan/survei, dan hari terakhir, sosialisasi untuk masyarakat beberapa desa di Kecamatan Tanimbar Selatan yang dilewati survei.

Nara sumber utama pada kegiatan tersebut adalah Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Papua Maluku A. Rinto Pudyantoro, Kepala Unit Percepatan Proyek Abadi Luky Yusgiantoro dan Bupati Maluku Tenggara Barat Petrus Fatlolon.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Papua Maluku A. Rinto Pudyantoro mengatakan, survey yang dilakukan merupakan survey pelengkap atau tambahan bagi survey yang dilakukan sebelumnya, meskipun hanya membutuhkan waktu 2 bulan kedepan tetapi dianggap penting sekali.

“Sebelumnya bapak sudah mendengar bahwa Inpex awalnya akan memakai konsep kilang laut/off shore, maka beberapa survei itu sudah dilakukan, beberapa data sudah dikumpulkan. Tentu ketika berpindah ke konsep kilang On shore/darat, perlu ada tambahan data melalui survei. Oleh karena itu dilakukan juga tidak terlalu lama sebentar saja maksimal dua bulan, karena ini hanya melengkapi dari survey yang sebelumnya ada . Tapi survey ini penting sekali, karena akan menjadi basis untuk Inpex nanti menyampaikan informasi kepada SKK Migas terkait kondisi tanah (geoteknikal), topografi (kontur tanah), kondisi laut (batimetri) dalam rangka pengembangan kilang darat LNG Blok Masela, ” ungkapnya.

Sementara itu Bupati Maluku Tenggara Barat Petrus Fatlolon dalam arahannya mengatakan, Pelaksanaan pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan awal sebagai penentu apakah Kabupaten Maluku Tenggara Barat siap atau tidak, untuk dibangun fasilitas –fasiltas penunjang dalam rangka produksi LNG Blok Masela dengan skema darat. ”Saya berharap supaya kita semua dapat mendukung pelaksanaan survey awal ini, tidak ada proyek-proyek lain di negeri ini yang dikategorikan sebagai Proyek Strategis Nasional, setahu saya hanya satu proyek di Maluku yang masuk dalam kategori Strategis Nasional yaitu Proyek Blok Masela, karena itu kita bangga dan sekaligus wajib memberikan dukungan agar pelaksanaan semua survey ini dapat berjalan dengan baik. ” harap Bupati.

Bupati meminta para kepala desa untuk menunjuk langsung staf desa mendampingi kontraktor yang akan melaksanakan pekerjaan survey, guna menghindari benturan dengan masyarakat di lapangan, dan dipastikan semua pelaksanaan survey ini jangan sampai terhambat. “ blok Masela ini harus kita dorong percepatannya, jadi jangan sampai ada yang menghambat yang nanti berdampak pada keterlambatan pelaksanaan program-program yang telah direncanakan, ” Himbau Bupati.

Diketahui, pada tahun 2016, Inpex diminta oleh Pemerintah Pusat untuk mengubah POD (Plan Of Development) dari semula pengembangan kilang gas di laut (off shore) menjadi di darat (on shore). Perubahan lokasi pengolahan gas tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa fasilitas onshore dapat memberikan dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat.

Sehingga untuk Proses pekerjaannya perlu dilakukan lagi sesuai tahapan yang berlaku seperti Pre-FEED ( Front End Engineering Design) sekitar setahun, kemudian FEED ( Front End Engineering Design) membutuhkan waktu dua-tiga tahun dan konstruksi hingga operasi menghabiskan waktu 4-5 tahun untuk bisa berproduksi. Blok Masela diperkirakan masih memerlukan waktu delapan/sembilan tahun lagi atau 2026/2027 untuk berproduksi jika semua berjalan lancar dan semua tahapan mulai dari POD( Plan Of Development), FEED ( Front End Engineering Design) hingga FID ( Final Invesment Decision) disetujui Pemerintah.

©diskominfo-mtb


Share post ini: